Jumat, 08 Januari 2016

Thank God, i'm alive

December 1st, 2015

tanggal 30 november pukul 22.00 waktu indonesia bagian jakarta utara gue baru keluar dari rs, abis operasi, sudah seminggu gue merantau ke rumah sakit.
Letih, mual, agak nyeri, dan kangen, kangen sama dr. Yanu, lah kok dr. Yanu? Iya selain jadi pasien gue juga merangkap jadi pengagum rahasia dokter2 bedah yg nanganin gue.
Tanggal 1 desembernya gue ujian pagi, jam 10.00wib (waktu indonesia bagian bekasi), belum terlalu siap karna belum mateng bgt belajarnya, rumah sakit bukan tempat yg kondusif buat belajar, sedikit belajar ini lah yg menjadi bekal gue nyantai ujian hari ini, dan alhamdulillah semua nya lancar, entah bener entah engga selama gue masih bisa ngarang gue anggap ujiannya lancar.

1 Desember 1994, tepat 21 tahun yg lalu gue lahir, tapi di hari ini gue malah ujian dan malamnya gue baru balik dari rumah sakit, ga ada tangan yg menyalami gue selamat ulang tahun, hanya deretan chat dan email yang masuk memberikan ucapan lengkap dengan doa. Tak ada sesuatu yang terbungkus, tak ada kue dan lilin untuk ditiup, hanya datang ke kampus-ujian-lalu pulang, tapi gue bersyukur untuk tahun ini.

Segala operasi gue tahun ini berjalan lancar, ujian gue hari ini lancar, gue dalan keadaan sehat, gue punya rumah sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan, gue bisa makan dan minum dari rizki yg halal, gue punya segalanya, lebih dari sekedar sesuatu yang dibungkus yg menjadi barang adat mereka yg bertambah umur, lebih dari sekedar acara tiup lilin, 21tahun ini terasa sangat luar biasa.

Mengingat kembali 2 tahun lalu, 2014...
Buat gue ini adalah tahun tersulit gue, bukan hanya soal kecelakaan maut yg hampir merenggut nyawa gue, tapi juga firasat soal kematiaan yg bikin gue hidup tidak tenang, dibayangi ketakutan akan dijemput ajal, sampai tidur pun gue sungkan.
Tiap kali gue mengingat ini, rasanya pantas gue mensyukuri hidup gue sampai hari ini.

Deretan drama yang gue temukan di rs, mulai dari orang yg patah tulang tp dia gapunya uang, patah tulang dan meninggal, ganteng tapi gapunya tangan, sampai sesosok wanita yg masih meracuni pikiran gue sampai hari ini.
Tentang wanita yg nyaris tersungkur saat berpindah tempat duduk dari kusri roda ke bangku panjang ruang tunggu agar bisa berbaring, tubuhnya pucat pasih dan lemas, dia terdiagnosa kanker getah bening, entah bibir ini ingin menyampaikan apa, dia hanya bisu tanpa sepenggal kalimat pun, rasanya dibuat malu ribuan kali.

Malu rasanya jika sampai hari ini masih ada saja yang gue keluhkan, selalu merasa kurang dan mau lebih, dasar manusia!
Tapi baiknya tuhan, dia merencanakan banyak pertemuan hebat gue, ketemu dokter bedah spektakuler, ibu2 yg tidak gue kenal dan menangis saat menatap gue.
Terlalu... terlalu banyak hal hebat yg melibatkan gue, jangan tanya gue mau kado apa, gue cuma mau pintar bersyukur lebih dari siapapun, gue mau terus dalam keadaan iman dan islam sepanjang hidup dan mati nya gue, gue mau hidup bahagia dijalan tuhan.
Lalu bagaimana dengan cita2 gue menjadi dokter? Tak inginkah gue mendoakan cita2 gue sendiri?
Gue selalu mendoakan itu, dan tuhan tahu mana yg terbaik buat gue.

Salam hangat,

Aku... yang berulang tahun di 1 desember

Kamis, 31 Desember 2015

Terima kasih Cerita Hebat Sepanjang Tahunnya Tuhan

July, 30th 2015
RSPAD Gatot Subroto, Jakarta - Indonesia

Gue sudah agak lebih tenang hari ini ketibang kemarin, saat dimana gue sudah remuk menjadi leburan butiran partikel. Ya... kemarin kedatangan gue ke rumah sakit pusat angkatan darat ini ditolak untuk MRI, bodohnya gue, gue menggunakan pen di tulang gue dan bahannya stainless stell. MRI... Magnetic Resonance Image, medan magnet yg kuat tentu akan menarik pen ditulang paha gue tanpa ampun, menembus daging dan pembuluh darah, gaya tarik-menarik medan magnet seperti kerja magnet pada umumnya, ahh... merinding gue membayangkannya.

Tapi hari ini gue sedang enggan untuk cemas, gue pasrahkan untuk apapun yg terjadi hari ini, setidaknya gue sudah berjuang, apapun hasilnya nanti gue akan tetap menganut rencana tuhan lebih indah dari apa yang gue duga.

"Diah Tara Dewi masuk ke kamar 9", nama gue dipanggil setelah beberapa menit gue berdiri, senang? Tentu. Ada 3 ruang praktek dokter bedah ortopedi, kamar 7, 8, dan 9, Nama gue dipanggil diruangan yang isinya adalah seorang dokter muda dengan penampilan rapi dan cukup menarik, gue tebak mungkin dia anak residen, ketibang jadi dokter pria muda ini lebih cocok jadi pendamping hidup gue.

Sejujurnya penampilannya tidak mengambil alih imajinasi gue hari ini, meski gue tidak cemas tetap saja gue mengharapkan tetap bisa melaksanakan operasi. Gue menceritakan kendala yang gue temui pada si dokter residen ini, gue ditolak MRI karena gue punya pen, dia pun keluar ruangan dan pergi ke kamar 8. Seorang dokter dengan pakaian tentara loreng2 masuk, dari bet namanya tertulis "YANUARSO" ditulis dengan huruf kapital, "ahh! Jodoh! dokternya samaan lagi sama nadia" dia adalah seorang dokter bedah ortopedi yg pernah menangani teman tim basket gue dulu dan dia mengajukan pertanyaan ke gue, gue pun di suruh ke kasur untuk dilakukan pengecekan fisik. Dari bentuk lutut gue dia sudah bisa menebak ada salah satu ligamen lutut gue yang lepas, selesai dia melakukan pengecekan fisik di kaki gue dia pun memberikan pernyataan.

"Sebenernya ada 2 kemungkinan, pertama... kamu mau MRI jadi operasi lepas pen dulu, atau..." dokter yanu memberikan jeda pada kalimatnya, pikiran gue mulai berkecambuk "atau kamu di urut aja? Atau kamu tunggu aja entar juga sembuh sendiri? Atau... kamu gapunya harapan?" Pikiran gue mulai berfantasi nakal, atau apasih dok? Gue tetap membuat percakapan dalam hati dan terus mengamati dengan seksama kalimat dr. Yanu selanjutnya

"Atau kamu mau langsung operasi?" Tanya dokter yanu melanjuti skenario nya "langsung operasi dok!" Jawab gue tanpa ada rasa takut dengan operasi sedikit pun.

Ah... terima kasih tuhan untuk banyak cerita hebat di tahun ini, terima kasih tuhan untuk kelancaran semua operasi di tahun ini, terima kasih tuhan untuk sehatnya untuk banyak pengalamannya, terimakasih tuhan untuk nikmat iman dan islam sepanjang tahun ini, terimakasih tuhan untuk keajaiban sepanjang tahun ini.

Terimakasih tuhan untuk tahun2 terhebatnya, semua luar biasa

Minggu, 20 Desember 2015

Chunks of Diamond

Apa kabar?
Ibu kamu apa kabar? Sehat kan?
Ibu kamu pasti super mom ya?
Kalo ibu aku... hehehehe

Nyokap gue itu adalah one of the orang nyebelin yang ada di muka bumi ini, gue ga akan jelasin rentetan menyebalkannya orang yg satu ini, ga baik ngomongin kejelekan orang hehe.
Tapi pada intinya orang ini sangat menyebalkan, gue kadang kalo marah pengen banget ngebentak orang ini, tapi dulu tiap gue marah sama orang nenek gue bilang
"Jangan inget jahatnya orang aja, inget baiknya juga"
Gue jadi selalu punya alasan untuk tidak mendendam sama orang2

Bagaimana gue sanggup membentak orang yang pernah memperjuangkan kehidupan gue saat kematian sudah ga sabar menjemput gue?
Semarah apapun gue, mantra nenek gue selalu mampu menghentikan niat jahat gue.

Dia memang sosok yang menyebalkan, tapi saat gue sedang menghadapi fase krisis antara hidup dan mati, dia adalah sosok yang... apa ya? Susah di definisikan, pokoknya dia wanita hebat.

Gue teringat saat gue sudah mulai membaik dari fase krisis, saat itu gue pasca kecelakaan dan mengalami cedera otak berat, beberapa dampaknya adalah gue rajin mengamuk, depersonalisasi disorder dan amnesia.
Saat itu kondisi gue memang sudah membaik, nyokap gue hendak pulang karna masih ada urusan yang harus diselesaikan, dia izin nanti malam untuk pulang tapi gue tidak mengizinkannya.

Malam belum datang tapi gue sudah sedari tadi membujuk dia untuk tidak pulang, entah alasan apa kenapa gue saat itu sangat ingin banyak yg menemani gue, gue ingin mengobrol banyak, gue ingin mendengar dan di dengar, seolah gue habis melakukan perjalanan hebat dan sangat ingin gue ceritakan.

Tapi memang kondisinya dia benar2 tidak bisa untuk tetap tinggal, dia harus pulang dan ini kesekian kalinya dalam minggu itu gue mengamuk, gue pun menangis dan membuang muka gue, gue masih sangat ingat rasa kesalnya waktu itu, gue menatap ke tembok berusaha mengacuhkan dia dan berlinang air mata gue, dia mengusap kening gue dan di ciuminya wajah gue berkali-kali. Air matanya berjatuhan di wajah gue, sesekali dia mencium gue sambil menghirup dari hidungnya dan dia bilang "umi sayang sama tara, umi sayang" dia terus mengusap kening gue, air mata gue kian berlinang.

Gue dalam keadaan sadar, tapi efek cedera otak yang gue alami detik itu gue seolah baru bangun. Gue terdiam beberapa detik, tanpa kata hanya air mata. Gue tidak lagi bersih keras menahan dia, pada akhirnya gue merelakan dia pulang saat itu gue merasa jauh lebih tenang.

Adalagi sudut pandang seru yang gue tonton di acara reality show di tv tentang gambaran seorang ibu. seorang nenek dan cucu perempuannya, kira2 usianya mungkin kisaran 10-12 tahun, mereka naik kereta, si pembawa acara menanyakan tujuan mereka berdua, dan adegan sedih pun dimulai.

Si pembawa acara menanyakan siapa gadis kecil disampingnya, gadis itu... apa ya kata yg sopan, intinya dia mengalami kelainan, jadi cacat bawaan. Lalu si nenek bilang kalo itu cucunya, si pembawa acara menanyakan dimana ibunya, jeng... jeng... jeng... jeeeeengg...
si nenek menceritakan bahwa si ibu gadis ini tidak mengakui dia anaknya. Jadilah dengan sukarela si nenek ini merawatnya, si pembawa acara dan si nenek ini pun menceritakan panjang lebar tentang gadis ini.

Si pembawa acara menanyakan
"Ibu kan baju nya kaya gini ya, kan sering naik KRL pernah ga dikira pengemis?" Si nenek pun menjawab
"Pernah pas waktu itu ada bapa2 dgn baju parlente dan dia bilang 'bu kalo mau ngemis jangan sekarang'".
Gue gatau mau komentar apa, tapi pasti rasanya lebih dari sakit, paling tidak itu yang di isyratkan oleh si nenek lewat wajahnya.
Ini menjadi pelajaran kecil buat gue, orang kecil ga selalu kecil, sebagian dari mereka punya hati yang lebih besar dari semesta, wanita yg mengandung kita memang ibu biologis kita, tapi yang merawat dan membesarkan kita adalah ibu yang luar biasa. Jangan pandang orang karena dia siapa, tapi genggam mereka karna kita sesama makhluk tuhan, merendahlah dan jangan peduli dinilai apa sama orang nantinya, kamu gabutuh penilaian mereka kamu hidup karna kasih sayang dan nikmat tuhan.

Ketika lo di hina, bukankah lo juga pasti sakit tar? lo pengen nyumpahin? biarin tar, lain kali biarkan langit yang membalas, ketika tuhan sudah membalas, adzab dia lebih pedih daripada hinaan mereka.

Dan di akhir cerita si nenek sampai di stasiun tujuan, si nenek pun berkemas-kemas dan menyiapkan kain untuk menggendong cucu nya.
Bisa bayangkan? Cucunya bukan lagi anak kecil, dan nenek itu bukan lagi perempuan muda, cucunya akan terus tumbuh dan kian berat sedangkan si nenek akan kian menua dan makin rapuh.
Gue berjalan menggunakan kedua tongkat, padahal gue masih muda dan yang gue tumpu adalah beban tubuh gue sendiri, gue bukan main sering kelelahan. Kesimpulan yg gue dapati lagi, kala lo ngerasa beban lo terlalu berat untuk di pikul, ada orang yg bebannya lebih berat daripada lo, coba bayangin lo mengangkat beban orang lain yg lebih berat daripada lo, mereka tidak mengeluh, lantas... lo bisa memberi jaminan lo juga tidak akan mengeluh?

Kekuatan terbesar ada dalam diri kita, mengeluh hanya membantu menambah beban kita berkali-kali lipat, mungkin kita bukan orang yang pintar bersyukur tapi kita harus belajar mensyukuri segala hal yang kita punya.

"Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah." -Ibnu Mas’ud

Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat ^^

Salam ya buat keluarga kamu~